Am I a Candle…?? I Need Some Helps!!!
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Ya Rabb, hati ini terasa begitu terbebani dengan masalah-masalah yang silih berganti. Dan kini ia menghadapi labirin persoalan yang mendasar dan ternyata begitu sulit untuknya menemui jalan keluar. Ah, memang biasanya tak pernah memecahkan masalah *tanpa bantuanMu* Maka dari itulah hati ini bersujud merendah guna menghadapMu: memohon, mengharap, meminta, memelas, mengiba, merengek tuk ke sekian kalinya. Walau hati ini tak pantas tuk meminta karena seringnya lalai dari perintahMu.
Ya Rabb. Izinkanlah hati ini mengeluh mengenai hidup sebagai muslim di zaman raja-raja diktator yang terpisah berabad-abad lamanya dari Muhammad bin ‘Abdullah SAW. Jauh di lubuk hati kecil ini ada keyakinan kuat bahwa setiap kejadian yang Engkau tentukan pasti ada hikmahnya, manfaatnya, dan itulah yang terbaik bagi kita semua, hambaMu. Termasuk mengapa Din yang Engkau ridhai ini digariskan untuk terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang selamat. Namun ini menyebabkan adanya rasa takut, khawatir, cemas yang mendampingi keyakinanku itu. Maaf.
Ya Rabb. Apa yang harus hati ini lakukan? Hati ini bingung bukan main. Ketika hati ini sudah menemukan dalil tuk beribadah padaMu sesuai dengan sunnah RasulMu, ternyata malah membuat orangtuaku tidak ridha karena perbedaan. Dan hati ini pun telah terlanjur berjanji akan beribadah sesuai dengan yang diajarkan oleh keluarga sebelumnya *kakek, nenek, dst* tanpa tahu haditsnya. Durhakakah hati ini pabila kulanggar dengan kembali pada sunnah-sunnah NabiMu? Durhakakah diriku, ya Ghafur? Padahal, kumendambakan sekali memperoleh kesempurnaan ibadah.
Ya Rabb. Selain itu, hati itu masih belum bisa menemukan kebenaran dari 73 pilihan itu. Yang manakah Ahlus Sunnah wal Jamaah itu, ya Nuur? Tunjukanlah dengan cahayaMu. Untuk saat ini kuhanya bisa berbuat yang kutahu saja, yang jelas saja perintah dan sunnahnya. Maafkanlah hati ini, ampunilah duhai Allah. Kumerasa mencampuradukkan beberapa golongan tersebut. Baru merasa. Afwan. Kumohon, jika nanti hati ini cenderung pada kemaksiatan atau kesesatan *<-na’udzubillah* panggillah segera hati ini tuk menghampiriMu sebelum terjun ke jurang nista dan tak sanggup merangkak naik lagi. Panggillah, bahkan sebelum terlintas dalam pikiran tuk ke arah sana. Niscaya hati ini mendapat husnul khatimah. Amin.
Terakhir, ya Rahman ya Rahim. Bukannya aku tak percaya akan kepastian Engkau untuk menepati janji. Bukannya aku meragukan ayatMu “…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (QS. Al Hajj: 40)“ maupun “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad: 7)” Tidak sama sekali. Akan tetapi entah kenapa hamba merasa seperti lilin *semoga tidak menjadikanku riya* Lilin yang memberi cahaya ke setiap penjuru dengan cuma-cuma sehingga tentramlah makhluk-makhlukMu di sekitarnya karenanya, tapi sejatinya lilin itu sangat menderita karena dirinya sendiri meleleh terbakar hingga redup dan mati. Ketika kegembiraan tergurat di wajah teman-teman seperjuanganku karena kepastian masa depan pendidikannya *demi DiriMu, hamba juga senang* Tapi, kenapa kudapati raut kekecewaan orangtuaku? Kekecewaan karena kegagalanku. Orang bilang, kegagalan adalah pintu kesuksesan atau kesuksesan yang tertunda. Mungkin itu tidak 100% benar, namun juga tidak bisa disalahkan. Mungkin secuil asa itu yang kini ada di hatiku terhadapMu, untuk menggapai kesuksesanku yang tertunda, yang jauh lebih baik daripada saat itu. Berikanlah yang terbaik bagiku dari sisiMu di dunia dan di akhirat. Obatilah rasa kecewa itu dengan kebahagiaan yang tak hingga. Berikanlah hal itu di saat yang tepat sehingga terasa sempurna dan membuatku semakin yakin akan rencana indahMu. Amin, kabulkanlah.
Oh ya, satu lagi yang hampir terlupa. Umm, sepertinya hati ini memerlukan pendamping n_n Sebagai pengingat *bukan motivator penghilang keikhlasan* yang karenanya selalu terjaga akan mengingatMu dalam segala aspek kehidupan dunyawi-ukhrowi. Serta dalam bingkai rangkaian cinta kepadaMu. Kumohon kirimkan untukku bidadari suci nan shalihah itu secepatnya ketika segalanya sudah siap, mantap, dan tepat untuk menyempurnakan setengah agama ini. Tolong ya… hehhe *bersungguh-sungguh loh*
Ya Rabb ya Karim, ridhailah diri ini seluruhnya sebagai hambaMu seutuhnya; ridhailah setiap nafas yang terhembus, kaki yang berderap, jantung yang berdetak, dan setiap senti gerak tubuhku sebagai amalan shalih; kuatkan imanku, bantu aku tuk tingkatkan kualitas diri. Kumohon dengan sangat, perkenankanlah.
Wahai kawan yang baca tulisan ini, ada yang bersedia membantu karena Allah? Butuh banget nih. SBY-JK (Syukran Banget Ya, Jazakumullah Khair)
Subhaanaka Allahumma wa bihamdika asyhaduanla laa ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atubu ilaika. Wallahu alam bish shawab wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
May 27th, 2007 at 7:17 pm
The Laughing Heart
Author: CC Bukowski
Your life is your life
don’t let it be clubbed into dank submission
be on the watch
there are ways out
there is light somewhere
it may not be much light but it beats the darkness
be on the watch
The God will offer you chances
know them, take them
you can’t beat death but you can beat death in life sometimes
and the more often you learn to do it
the more light there will be
your life is your life
you are marvelous
The God wait to delight
in
you.
never give up!
se-ngerasa-ga-ada-temen apapun, pasti masih ada kok orang2 yang peduli sama pH (ga nyambung ya? XP)
orang2 teh lagi pada kenapa sih.. ada yang bisa jelasin?? perasaan jadi pada aneh *ga ngerasa gitu =p*